Rizki Allah itu Pasti

Rizki Allah itu Pasti

Rizki Allah itu pasti.. 

Sebelumnya aku ingin sedikit cerita kisah Imam Syafi'i dan Imam Malik tentang rizki.. 

Suatu ketika Imam Malik berpendapat rizki itu cukup dengan tawakkal, niscaya ia datang sendiri. Murid kinasih beliau Imam Syafi'i yang mengetahui itu tidak sepakat, beliau berpendapat rizki itu harus dengan usaha. 

Akhirnya Imam Syafi'i ingin membuktikan pendapatnya. Beliau keluar jalan-jalan sambil mencari cara untuk membuktikan… 

Singkat cerita beliau bertemu seorang kakek tua yang membawa setandan kurma yang cukup berat. Akhirnya Imam Syafi'i membantu memanggulkan.. (Anak muda yang baik 🤍) 

Setelah Imam Syafi'i membawakan kurma kerumah, beliau diberi beberapa anggur oleh kakek itu.. Dan sekarang, akhirnya imam Syafi'i punya hujjah untuk membuktikan pendapatnya.. 

Beliau kemudian bergegas menghadap Imam Malik dengan membawa anggur itu dan bercerita beliau mendapat anggur sebab usaha memanggulkan kurma.. 

Apa yang di lakukan Imam Malik? Ibtasama al-Imam 😊, Imam Malik tersenyum manis kepada Imam Syafi'i, mengambil satu anggur dan memasukkan ke mulut beliau… 

Beliau berkata : "seharian ini aku hanya bertawakkal dengan mengajar, dan sedikit berpikir alangkah nikmatnya di hari yang panas ini aku bisa menikmati anggur… Tiba-tiba engkau datang membawakan seikat anggur kepadaku…Bukankah ini rizki tanpa sebab, hanya perlu tawakkal yang benar kepada Allah, niscaya rizki datang sendiri.. "

_______

Aku dapat cerita yang sekilas mirip, suatu hari ada seorang remaja sepulang dari kuliah kehilangan dompet beserta  ATM nya. Sedangkan hari itu hari Jum'at sore dan ia baru bisa mengurus ATM hari senin.. 

Ia berada jauh dari keluarga, belum begitu kenal dengan orang sekitar, ia baru saja menginjakkan kaki di kota itu.. 

Akhirnya ia bertawakkal menyerahkan urusannya kepada Allah, ia beribadah, membaca Al-Quran, berdoa, dan melakukan banyak hal.. 

" Allah Maha Pemberi Rizki, Allah sayang kepada hamba_Nya, pasti Allah akan bantu dan aku gak akan dibiarkan kelaparan. Kenapa aku harus takut miskin (kekurangan) sedangkan Tuhanku aja Allah yang Maha Kaya (al-Ghaniy)..". Keyakinan ini ia tancapkan begitu kuat.. 

Lalu apa yang terjadi.? Allah Maha pemberi rizki.. 

Sehabis Maghrib, pada hari itu ia dapat rezeki dari seseorang tanpa disangka-sangka, tanpa sekalipun ia menduganya..ia sangat bersyukur, bersyukuuur banget.. Rezeki dari Allah, yang sangat nikmat, rizki yang min haitsu la yahtasib seperti kata Allah.. 

وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ ۚ وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ

Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Allah akan memberi jalan keluar kepadanya dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangka. Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan keperluannya.. 

Tetap semangat mencari rizki, berusaha yang maksimal, dan tawakkalnya juga maksimal.. Usaha tidak menghianati hasil..

____🤍

Sumber FB Ustadz : M Syihabuddin Dimyathi

Ridha dengan Rezeki yang Allah Ta'ala telah Berikan

Ridha dengan Rezeki yang Allah Ta'ala telah Berikan

"Barang siapa ridha dengan rezeki yang Allah Ta'ala telah berikan, maka ia akan tenang di dunia dan di akhirat."

Habib Sholeh bin Muhsin Al-Hamid

#UlamaNusantara #habibsholehtanggul 

Sumber FB : Ulama Nusantara

7 Tanaman Penghambat Rezeki, Dilarang Tanam Depan Rumah

7 Tanaman Penghambat Rezeki, Dilarang Tanam Depan Rumah

7 Tanaman Penghambat Rezeki, Dilarang Tanam Depan Rumah, Salah Satunya Pepaya

Tanaman yang ditanam di sekitar rumah kita sebaiknya kita perhatikan karena siapa tahu adalah 1 diantara 7 tanaman penghambat rezeki, yang justru dilarang untuk ditanam di depan rumah yang kita miliki.

Karena 7 tanaman penghambat rezeki ini sebaiknya tidak ditanam di depan rumah tapi di kebun yang memang dikhususkan untuk tanaman tersebut.

Sehingga energi negatif dari tanaman tersebut tidak sampai di rumah pemilik tanaman tersebut. Lain ceritanya kalau di tanam di kebun memang dianjurkan apalagi kalau buahnya enak dimakan dan bergizi tinggi.

Berikut ini 7 tanaman penghambat rezeki yang dilarang di tanam di depan rumah karena kalau di tanam di area tersebut memberikan aura negatif bagi pemilik rumah yang bisa membawa kemalangan. Hal tersebut sebagaimana dilansir dari channel Youtube E2TV Endang Gunawan:

1. Pohon Pepaya

Pohon pepaya sebaiknya tidak ditanam di depan rumah karena sejak kepercayaan tradisional dan primbon Jawa dengan ilmu titennya pohon pepaya selalu diasosiasikan kurang baik kehadirannya.

Karena pohon pepaya tidak hanya dipercaya membawa energi buruk ke rumah, tetapi juga dianggap sebagai kesukaan makhluk ghaib. Dengan adanya makhluk jahat tadi bisa memancing penghuni rumah untuk berbuat kurang baik dan tidak tenang. Disamping itu pohon pepaya juga mudah tumbang sehingga sebaiknya tanaman pepaya di tanam di kebun.

2. Pohon Anggur

Anggur sendiri merupakan buah favorit masyarakat Indonesia, karena rasanya yang manis dan enak dikonsumsi. Tapi ternyata pohon anggur berpotensi menghalangi rezeki datang ke rumah. Tidak hanya dalam kepercayaan jawa saja tapi juga kepercayaan Islam juga melarang anggur ditanam di dekat rumah.

Karena pohon anggur ini dilarang ditanam di sekitar rumah karena dianggap bisa membawa kebangkrutan si pemilik rumah dimana anggur itu ditanam. Dan kalau daun anggur itu kalau terkena pada kulit yang sensitif bisa membuat gatal.

3. Tanaman Myrtus atau Asam Jawa

Tanaman myrtus sekilas mirip secara filosofis mirip tanaman asam yang dianggap sebagai tanaman yang bisa membawa nasib buruk yang tidak boleh dipertahankan.

Pemilik rumah sebaiknya tidak menanam atau merawat kedua tanaman ini, atau membangun rumah di dekat kedua tanaman ini, jika tidak ingin dilanda nasib buruk dan kemalangan. Karena kedua tanaman ini mengeluarkan energi negatif dan disukai makhluk astral ( halus).

4. Pohon Kapas atau Pohon Kapuk

Tanaman Kpas atau pohon kapuk apabila ditanam di depan rumah bisa jadi perantara debu dan kotoran masuk rumah. Tanaman ini juga bisa menjadi sumber kemalangan dan karena kalau kotor biasanya tidak hanya manusia saja yang menghuni tapi juga makhluk halus.

5. Pohon Pinang

Pohon ini diyakini membuat anak-anak pemilik rumah dimana pohon ini ditanam menjadi tidak terkontrol baik dalam pendidikan maupun moral. Karena menurut primbon Jawa pohon pinang adalah salah satu pohon yang mengeluarkan energi negatif. Sehingga pohon pinang tidak baik untuk ditanam di sekitar rumah.

6. Tanaman Kaktus

Pohon kaktus dilarang ditanam di depan rumah karena dianggap sebagai salah satu tanaman pembawa sial karena tanaman yang berduri dan tumbuh dalam lingkungan yang minim air. Karena itu pohon ini dilarang di tanam di sekitar atau dalam rumah karena memberi energi negatif yang berpengaruh dengan dir penghuni rumah.

7. Tanaman Yang Sudah Mati

Tanaman mati selain mengganggu estetika halaman rumah juga bisa membawa hal yang buruk kepada manusia penghuni rumah.

Jika tanaman sudah mati segera bersihkan dan singkirkan dari halaman rumah, karena tanaman yang sudah mati bisa membawa sial karena sumber energi negatif sebagai sumber kemalangan bagi penghuni di sekitar rumah. Karena tanaman yang sudah mati sarat dengan hal yang berbau kematian. Segera diganti dengan tanaman baru yang segar.

Doa Tawakal dan Kelancaran Rezeki

Doa Tawakal dan Kelancaran Rezeki

Rasulullah SAW pernah mengingatkan cucunya yakni sayyiduna Hasan dalam mimpinya untuk membacakan doa berikut ini: 

“Ya Allah lemparkan pengharapan (kepada)Mu di hatiku dan putuskan (ketergantungan) harapanku dari orang selain-Mu. Hingga aku tidak akan berharap kepada siapapun selain-Mu. Ya Allah dan sekalipun kekuatanku lemah darinya, usahaku pendek/sedikit darinya, dan itu tidak bisa menyelesaikan keinginanku juga tidak bisa mengatasi masalahku. Dan keyakinan belum berjalan pada lisanku dari apa yang telah Engkau berikan kepada siapapun, baik dari orang-orang terdahulu maupun orang-orang yang terakhir, maka keyakinan tersebut tolong khususkan aku wahai Tuhan semesta alam.”

Doa tawakkal ini dapat kita jumpai dalam Tārikh al-Khulafā' Imam Suyuthi, Tārikh Madīnah Dimashq Ibn 'Asakir dan tersebut juga dalam Abwāb al-Faraj Abuya Sayyid Muhammad Maliki.

ﺍَﻟﻠﻬُﻢَّ ﺻَﻞِّ ﻋَﻠَﻰ ﺳَﻴِّﺪِﻧَﺎ ﻣُﺤَﻤَّﺪٍ ﻭَﻋَﻠَﻰ ﺁﻝِ ﺳَﻴِّﺪِﻧَﺎ ﻣُﺤَﻤَّﺪٍ ﷺ

Update informasi seputar PWNU Jawa Barat dengan mengikuti :

Website: jabar.nu.or.id

Fanspage: NU Jabar Online

Instagram: @nujabaronline

Youtube: NU Jabar Channel

Twitter: nujabar_online

#PWNUJabar #nahdlatululama #jawabarat #nujabaronline #nuonlinejabar #nuonline #ulamanusantara #ulamaindonesia #doapagi #doarezeki #doarasul #doa 

Sumber FB : NU Jabar Online

Semua Sudah Ditanggung Allah Rizkinya

Semua Sudah Ditanggung Allah Rizkinya

Semua Sudah Ditanggung Allah Rizkinya

Tidak ada makhluk yang hidup di bumi ini melainkan rezekinya dijamin oleh Allah sebagai wujud kemurahan-Nya kepada makhluk. Dia mengetahui tempat tinggalnya di bumi dan mengetahui tempat di mana ia akan mati. Setiap makhluk hidup bersama rezekinya, tempat tinggalnya dan tempat matinya semuanya tercatat di dalam kitab yang jelas, yaitu Lauḥ Maḥfuẓ.

Allah berfirman, 

وَمَا مِن دَابَّةٍ فِي الْأَرْضِ إِلَّا عَلَى اللَّهِ رِزْقُهَا وَيَعْلَمُ مُسْتَقَرَّهَا وَمُسْتَوْدَعَهَا كُلٌّ فِي كِتَابٍ مُّبِينٍ

'Dan tidak ada suatu binatang melata pun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rezekinya, dan Dia mengetahui tempat berdiam binatang itu dan tempat penyimpanannya. Semuanya tertulis dalam Kitab yang nyata (Lauh mahfuzh)."

[Hud : 6]

Berkata seorang Mufassir,

Faedah dari ayat,

1 ). Setiap makhluq sudah ditentukan rezekinya, dan mereka harus mendapatkannya :

 { وَمَا مِنْ دَابَّةٍ فِي الْأَرْضِ إِلَّا عَلَى اللَّهِ رِزْقُهَا } 

"Dan tidak ada suatu binatang melata pun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rezekinya" ; bahkan apa yang ia makan dari sesuatu yang haram pun masuk dalam kategori rezeki ini! sebagaimana orang-orang kafir mendapatkan rezeki mereka dan terkadang apa yang mereka dapat karena perantara yang haram namun mereka diberikan rezeki yang baik, adapun orang-orang bertaqwa Allah beri mereka rezeki dari arah yang mereka tidak sangka, namun jatah yang mereka terima bukan dari arah yang haram dan tidak pula dari sumber yang kotor.

2 ). Jika ada rasa takut yang terlintas dalam benakmu akan kemiskinan, ketahuilah bahwasanya itu hanya bisikan yang tidak berharga, dan bantahlah rasa takut itu dengan rezeki yang telah dituliskan oleh al-qur'an :

 { وَمَا مِنْ دَابَّةٍ فِي الْأَرْضِ إِلَّا عَلَى اللَّهِ رِزْقُهَا } 

"Dan tidak ada suatu binatang melata pun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rezekinya" , dan jika syaithon menakut-nakutimu dengan kematian dan pembunuhan, lawanlah ia dengan ketentuan ajal yang dituliskan oleh al-qur'an : 

{ وَلِكُلِّ أُمَّةٍ أَجَلٌ ۖ فَإِذَا جَاءَ أَجَلُهُمْ لَا يَسْتَأْخِرُونَ سَاعَةً ۖ وَلَا يَسْتَقْدِمُونَ } 

"Tiap-tiap umat mempunyai batas waktu; maka apabila telah datang waktunya mereka tidak dapat mengundurkannya barang sesaatpun dan tidak dapat (pula) memajukannya" [ Al-A'raf : 34 ].

Rezeki makhluk sudah diatur dan sudah ditentukan oleh Allah. 

Namun demikian, manusia tetap diperintahkan untuk berikhtiar. Memang ketentuan rezeki makhluk sudah ada yang mengatur yaitu Allah, maka manusia tak perlu khawatir akan rezekinya.

Berkata Imam Ibnu Katsir رحمه الله,

Firmannya,

{Dan tidak ada suatu binatang melata pun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rezekinya, dan Dia mengetahui tempat berdiam binatang itu dan tempat penyimpanannya. Semuanya tertulis dalam Kitab yang nyata (Lauh Mahfuz)}. 

Allah menceritakan bahwa Dialah yang menjamin rezeki makhluk-Nya, termasuk semua hewan yang melata di bumi, baik yang kecil, yang besarnya, yang ada di daratan, maupun yang ada di lautan. Dia pun mengetahui tempat berdiam binatang itu dan tempat penyimpanannya. Dengan kata lain, Allah mengetahui sampai di mana perjalanannya di bumi dan ke manakah tempat kembalinya, yakni sarangnya; inilah yang dimaksud dengan tempat penyimpanannya.

Ibnu Abbas mengatakan makna firman-Nya: 

Dan Dia mengetahui tempat berdiam binatang itu. (Hud: 6) 

Yakni tempat berdiamnya binatang itu (sarangnya) dan tempat penyimpanannya. (Hud: 6) 

bila telah mati.

Diriwayatkan dari Mujahid berkata, makna firman-Nya: dan Dia mengetahui tempat berdiam binatang itu. (Hud: 6) 

Maksudnya, di dalam rahim. dan tempat penyimpanannya. (Hud: 6) di dalam tulang sulbi, seperti yang terdapat pada surat Al-An'am.

Hal yang sama telah diriwayatkan dari Ibnu Abbas, Ad-Dahhak, dan sejumlah ulama. Ibnu Abu Hatim telah menyebutkan pendapat-pendapat ulama tafsir dalam ayat ini, juga menyebutkan pendapat mereka tentang ayat dalam surat Al-An'am tersebut.

Makna yang dimaksud ialah bahwa semuanya itu telah tercatat di dalam suatu Kitab yang ada di sisi Allah yang menerangkan kesemuanya itu. Perihalnya sama dengan makna yang terkandung di dalam firman-Nya:

{وَمَا مِنْ دَابَّةٍ فِي الأرْضِ وَلا طَائِرٍ يَطِيرُ بِجَنَاحَيْهِ إِلا أُمَمٌ أَمْثَالُكُمْ مَا فَرَّطْنَا فِي الْكِتَابِ مِنْ شَيْءٍ ثُمَّ إِلَى رَبِّهِمْ يُحْشَرُونَ}

Dan tiadalah binatang-binatang yang ada di bumi dan burung-burung yang terbang dengan kedua sayapnya, melainkan umat-umat (juga) seperti kalian. Tiadalah Kami alpakan sesuatu pun di dalam Al-Kitab, kemudian kepada Tuhanlah mereka dihimpunkan. (Al-An'am:38)

{وَعِنْدَهُ مَفَاتِحُ الْغَيْبِ لَا يَعْلَمُهَا إِلا هُوَ merekaوَيَعْلَمُ مَا فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ وَمَا تَسْقُطُ مِنْ وَرَقَةٍ إِلا يَعْلَمُهَا وَلا حَبَّةٍ فِي ظُلُمَاتِ الأرْضِ وَلا رَطْبٍ وَلا يَابِسٍ إِلا فِي كِتَابٍ مُبِينٍ}

Dan pada sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang gaib; tak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri, dan Dia mengetahui apa yang di daratan dan di lautan, dan tiada sehelai daun pun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya (pula), dan tidak jatuh sebutir biji pun dalam kegelapan bumi dan tidak sesuatu yang basah atau yang kering, melainkan tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfuz). (Al-An'am: 59)

(Tafsir Al-Qur'an Al-Adhim, Imam Ibnu Katsir)

Salafunas sholeh رحمه الله berkata,

“Fokuskanlah pikiranmu untuk memikirkan apapun yang diperintahkan Allah kepadamu. Jangan menyibukkannya dengan rezeki yang sudah dijamin untukmu. Karena rezeki dan ajal adalah dua hal yang sudah dijamin, selama masih ada sisa ajal, rezeki pasti datang. Jika Allah -dengan hikmahNya- berkehendak menutup salah satu jalan rezekimu, Dia pasti –dengan rahmatNya- membukan jalan lain yang lebih bermanfaat bagimu.

Renungkanlah keadaan janin, makanan datang kepadanya, berupa darah dari satu jalan, yaitu pusar.

Lalu ketika dia keluar dari perut ibunya dan terputus jalan rezeki itu, Allah membuka untuknya Dua Jalan Rezeki yang lain [yakni dua puting susu ibunya], dan Allah mengalirkan untuknya di dua jalan itu; rezeki yang lebih baik dan lebih lezat dari rezeki yang pertama, itulah rezeki susu murni yang lezat.

Lalu ketika masa menyusui habis, dan terputus dua jalan rezeki itu dengan sapihan, Allah membuka Empat Jalan Rezeki lain yang lebih sempurna dari yang sebelumnya; yaitu dua makanan dan dua minuman. Dua makanan = dari hewan dan tumbuhan. Dan dua minuman = dari air dan susu serta segala manfaat dan kelezatan yang ditambahkan kepadanya.

Lalu ketika dia meninggal, terputuslah empat jalan rezeki ini, Namun Allah –Ta’ala- membuka baginya -jika dia hamba yang beruntung- Delapan Jalan Rezeki, itulah pintu-pintu surga yang berjumlah delapan, dia boleh masuk surga dari mana saja dia kehendaki.

Dan begitulah Allah Ta’ala, Dia tidak menghalangi hamba-Nya untuk mendapatkan sesuatu, kecuali Dia berikan sesuatu yang lebih afdhol dan lebih bermanfaat baginya. Dan itu tidak diberikan kepada selain orang mukmin, karenanya Dia menghalanginya dari bagian yang rendahan dan murah, dan Dia tidak rela hal tersebut untuknya, untuk memberinya bagian yang mulia dan berharga.” 

Wallahu a'lam 

Sumber FB Ustadz : Alhabib Quraisy Baharun

Pentingnya Ikhtiar, Menjemput Rezeki

Pentingnya Ikhtiar, Menjemput Rezeki

MUTIARA KISAH

PENTINGNYA IKHTIAR, MENJEMPUT REZEKI

Dari Umar bin Khattab, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Seandainya kalian benar-benar bertawakkal pada Allah, tentu kalian akan diberi rezeki sebagaimana burung diberi rezeki. Ia pergi pagi hari. dalam keadaan lapar dan kembali di sore hari dalam keadaan kenyang.” (HR. Tirmidzi no. 2344)

   Abu ‘Isa Tirmidzi mengatakan bahwa hadits ini hasan shahih. Hadits ini sekaligus menunjukkan bahwa yang disebut tawakkal berarti melakukan usaha, bukan hanya sekedar menyandarkan hati pada Allah. Karena burung saja pergi di pagi hari untuk mengais rezeki. Maka tentu manusia yang berakal tentu melakukan usaha, bukan hanya bertopang dagu menunggu rezeki turun dari langit.

   Sebagaimana dijelaskan pula oleh Ibnu hajar Al Asqolani rahimahullah ketika membahas ‘tidaklah hewan melata di muka bumi melainkan Allah yang beri rezeki’, lantas beliau berkata, "Bukanlah yang di maksud meninggal kan sebab lalu berpangku tangan pada makhluk lain supaya mendapatkan rezeki. Sikap malas-malasan seperti ini yang enggan usaha bertolak belakang dengan maksud tawakkal. Imam Ahmad pernah ditanya mengenai seseorang yang cuma mau duduk-duduk saja di rumahnya atau hanya berdiam di masjid, ia berkata, "Aku tidak mau bekerja sedikit pun dan hanya mau menunggu sampai rezekiku datang.” Imam Ahmad pun berkata, "Orang ini benar-benar bodoh. Padahal Nabi shaliallahu ‘alaihi wa sallam bersabda —sebagaimana hadits burung diatas—Disebutkan bahwa burung saja bekerja dengan berangkat di pagi hari. para sahabat Nabi yang mulia pun berdagang dan bekerja dengan hasil kurma mereka. Merekalah sebaik-baik teladan.” (Fathul Bari, 11:306).

   Semoga Allah menjadikan hati kita penuh tawakkal, lemah lembut dan rasa takut pada-Nya.

Sumber : Buku Asmaul Husna untuk Hidup Penuh Makna

Sumber FB Ustadz : KH. Abdullah Gymnastiar

3 Mei 2021

Rezeki Sudah Dijamin, Sedangkan Nasib Di Akhirat Belum Ada Jaminan

Rezeki Sudah Dijamin, Sedangkan Nasib Di Akhirat Belum Ada Jaminan - Kajian Islam Tarakan

REZEKI SUDAH DIJAMIN, SEDANGKAN NASIB DI AKHIRAT BELUM ADA JAMINAN

Saat ini, setiap saat, setiap waktu, mungkin ada saja yang membuat hati kita risau, gusar, atau ”galau” dengan kehidupan kita di dunia ini. Entah harga barang-barang kebutuhan pokok yang mahal, entah biaya masuk sekolah, entah tarif listrik dan BBM yang terus mengalami kenaikan, dan apa saja yang membuat hati kita khawatir dengan jatah rizki kita. Uang yang seolah-olah semakin tidak ada nilainya, penghasilan yang stagnan, dan seterusnya.

Bisa jadi kita merasa, kita-lah yang hidupnya paling susah di dunia ini …

Padahal kenyataannya, di sana lebih banyak lagi orang yang kehidupannya lebih susah dari kehidupan kita …

Sebagian kita para suami, selalu risau, ”Dari mana aku akan mendapatkan rizki untuk menghidupi diri dan keluargaku besok? Bagaimana aku nanti bisa mencari penghidupan?”

Apakah “rizki” itu?

Salafunas sholeh rahimahullah menjelaskan,

”Rizki adalah segala sesuatu yang bermanfaat bagi manusia. Rizki itu ada dua macam, yaitu rizki yang bermanfaat untuk badan dan rizki yang bermanfaat untuk agama. Rizki yang bermanfaat untuk badan seperti makanan, minuman, pakaian, tempat tinggal, kendaraan dan yang sejenisnya. Adapun rizki yang bermanfaat untuk agama, yaitu ilmu dan iman.” 

Banyak di antara kita yang risau dengan rizki jenis pertama. Kita risau ketika penghasilan sangat tidak mencukupi untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan. Yang kita pikirkan setiap saat dan setiap waktu adalah bagaimana kita bisa memiliki penghasilan tambahan? 

Sebaliknya, kita justru tidak pernah risau dengan rizki jenis ke dua. Ketika hati kita kosong dari ilmu agama, kita santai-santai saja. Ketika iman kita nge-drop (turun drastis), tidak ada sama sekali kekhawatiran di dalam dada. Ketika amal ketaatan kita sedikit, kita cuek saja. Ketika kita semakin terbuai dengan maksiat, semuanya terasa happy-happy saja. Seolah-olah semuanya baik-baik saja, padahal bisa jadi iman kita sedang berada di pinggir jurang.

Semoga kita terselamatkan dari yang demikian ini …

Selain itu, rizki selalu kita identikkkan dengan uang, uang, dan uang …

Padahal, kesehatan adalah rizki …

Bisa bernapas adalah rizki …

dan demikian seterusnya untuk nikmat-nikmat yang lain.

Allah Ta’ala telah menetapkan rizki atas setiap diri kita

Jika memang yang menjadi kegelisahan kita adalah rizki jenis pertama, yaitu rizki yang bermanfaat untuk badan, maka perlu kita ketahui bahwa Allah-lah yang akan memberikan rizki itu semuanya kepada kita.

Salafunas sholehrahimahullah juga menjelaskan bahwa dalil yang menunjukkan bahwa Allah-lah yang memberikan rizki kepada kita itu sangat banyak, baik dalil dari Al-Qur’an, hadits, maupun akal.

Di antara dalil Al-Qur’an yang menunjukkan hal ini adalah firman Allah Ta’ala,

إِنَّ اللَّهَ هُوَ الرَّزَّاقُ ذُو الْقُوَّةِ الْمَتِينُ

”Sesungguhnya Allah, Dia-lah Yang Maha Pemberi rizki, Yang Mempunyai Kekuatan lagi Sangat Kokoh.” (QS. Adz-Dzariyat [51]: 58)

Allah Ta’ala juga berfirman,

قُلْ مَنْ يَرْزُقُكُمْ مِنَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ قُلِ اللَّهُ

”Katakanlah, ’Siapakah yang memberi rizki kepadamu dari langit dan dari bumi?’ Katakanlah, ’Allah’.” (QS. Saba’ [34]: 24)

Di ayat yang lain lagi Allah Ta’ala berfirman,

قُلْ مَنْ يَرْزُقُكُمْ مِنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ أَمَّنْ يَمْلِكُ السَّمْعَ وَالْأَبْصَارَ وَمَنْ يُخْرِجُ الْحَيَّ مِنَ الْمَيِّتِ وَيُخْرِجُ الْمَيِّتَ مِنَ الْحَيِّ وَمَنْ يُدَبِّرُ الْأَمْرَ فَسَيَقُولُونَ اللَّهُ فَقُلْ أَفَلَا تَتَّقُونَ

”Katakanlah, ’Siapakah yang memberi rizki kepadamu dari langit dan bumi, atau siapakah yang kuasa (menciptakan) pendengaran dan penglihatan, dan siapakah yang mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup dan siapakah yang mengatur segala urusan?’ Maka mereka semuanya akan menjawab, ’Allah’.” (QS. Yunus [10]: 31)

Sedangkan di antara dalil dari Hadits  adalah sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,

ثُمَّ يُرْسَلُ الْمَلَكُ فَيَنْفُخُ فِيهِ الرُّوحَ وَيُؤْمَرُ بِأَرْبَعِ كَلِمَاتٍ بِكَتْبِ رِزْقِهِ وَأَجَلِهِ وَعَمَلِهِ وَشَقِىٌّ أَوْ سَعِيدٌ

”Kemudian diutuslah Malaikat kepadanya (janin, pent.). Malaikat itu meniupkan ruh kepadanya dan diperintahkan untuk menuliskan empat kalimat (ketentuan yang telah ditetapkan oleh Allah baginya), yaitu: (1) rizki, (2) ajal, (3) amal perbuatan dan (4) (apakah nantinya dia termasuk) orang yang celaka (masuk neraka) atau orang yang berbahagia (masuk surga).” (HR. Muslim no. 6893)

Ketika yang menjamin rizki kita adalah Dzat Yang Maha kaya, mengapa kita masih sangat khawatir?

Semoga Allah memudahkan urusan dunia dan akhirat kita, AAMIIN

Sumber FB Ustadz : Alhabib Quraisy Baharun

18 Mei 2021·